Thursday, 19 August 2010

Innocent Reflection : Part 8

Ify yang masih tergeletak lemas di tempat tidur UKS selalu setia ditemani Rio. Riopun menunggu mama Ify yang sedang dalam perjalanan menuju Bina Pusaka. Sementara rasa sakit dan perih menimpa Sivia yang melihat Alvin dan Agni yang berduaan. Bagaimana dengan Gabriel maupun Cakka?

Part 8 : Alasan di Balik Semua Kegundahan

Rio mengetuk-ngetukkan jarinya di atas BlackBerry yang ia pangku. Dengan dua maksud; cemas akan keadaan Ify dan setengah tidak sabar dengan kehadiran Mama Ayu yang ia tunggu sekitar setengah jam yang lalu. Untuk kesekian kali, Rio beranjak dari tempat duduknya dan menatap sayu pemandangan luar yang merupakan halaman belakang. Namun sebuah ketukan halus memaksa Rio untuk menoleh.

“Masuk..” sosok yang Rio kenal beberapa tahun ini memasuki ruangan. Gabriel dan Cakka. Rio mengulaskan senyuman tipis dan menatap kembali pemandangan yang semula ia lihat. Cakka menepuk pundak Rio.

“Bro, kenapa lo? Apa cewek ini sebegitu berarti buat lo?” tanya Cakka dengan tatapan tajam mengarah kepada Rio. Walau Rio tak balas menatap, lebih memilih untuk melamun dan membiarkan jiwanya berbicara.

“Yah.. Gue juga ngga tau, Cak. Apa gue nganggep dia sebagai sahabat, apa gue memandang dia dengan perasaan sayang, dan..” Rio menundukkan kepala. Tak tega ia mengatakan hal yang buat Rio tak mungkin seiring dengan berlalunya waktu.

“Sabar aja ya Bro.”, sahut Cakka. Rio mengangguk dan kembali memandang layar BlackBerry-nya yang tak ada satupun SMS maupun telepon yang masuk.

Sementara Cakka menghibur Rio yang masih terasa shock, Gabriel memandang gadis yang terbaring lemas di tempat tidur. Keningnya berkerut, hatinya berdesir. Berkerutnya kening Gabriel karena mengapa Rio menemani gadis ini, dan berdesirnya hati Gabriel karena sang putri yang baru saja ia temui selang pelajaran Biologi tadi.

Gabriel mencuri pandangan lewat lirikan matanya yang menatap Rio berdiri membelakanginya, dengan kepala yang sedikit tertunduk. Dilengkapi dengan Cakka disebelah Rio tengah menepuk pundaknya sambil melontarkan kalimat encouragement. Setelah melihat para sohibnya, Gabriel melihat kembali ke arah Ify yang pucat. Walau keringat dingin mengucur dari kening gadis itu, Ify tetap terlihat cantik di mata Gabriel. Membuat Gabriel ingin mengusap kening gadis itu lembut.

Rio membalikkan badan dan berjalan menuju kursi tempat ia tadi duduk. Melihat Rio berjalan ke arahnya, Gabriel mengurungkan niat untuk membelai gadis itu. Suasana hening menyelimuti uneg-uneg mereka masing-masing. Sekali lagi Rio mendecakkan lidah karena Mama Ayu tidak bisa dihubungi. SMS selalu pending, di telpon tidak aktif. Lambat laun kesabaran Rio mulai menipis.

Karena keheningan yang begitu terasa, bahkan sebuah derap langkah yang mengarah ke UKS terdengar. Sepertinya derap langkah itu bukan hanya milik satu orang, melainkan dua orang. Seketika pintu UKS terbuka dengan dua orang perempuan dengan napas yang sama-sama tak beraturan. Rio, Cakka, dan Gabriel serempak menoleh.

“Tante Ayu..” ucap Rio lirih. Lalu membuang pandangan kembali ke arah Ify. Mama Ayu segera mengambil salah satu kursi dan meletakannya di dekat tempat tidur gadisnya. Air mata mulai menetes di pipinya.

“Fy.. Kamu kenapa sayang?” ucap Mama Ayu dengan nada yang menyimpan rasa kekhawatiran. Kekhawatiran yang terasa semakin memuncak. Rio hanya bisa terdiam. Membiarkan momen mama dan anak yang biasa di rasakan bila mereka hanya berdua.

Ternyata gadis yang satu lagi itu adalah Sivia. Gabriel menoleh ke arah Sivia. Pertama, dengan perasaan yang tak perduli. Tapi ia menoleh kembali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Gadis itu.. Gadis yang tengah menunduk ituu...

“Sivia?” tanya Gabriel. Sivia mendongakkan sedikit kepalanya. Matanya sedikit tak percaya.

“Elo...”

***

Derai tawa masih terdengar di lorong itu. Kali ini dengan Alvin yang membawa sebungkus snack. Sepertinya kehadiran Sivia yang menghilang belum menyadarinya. Ia masih asyik berbincang dengan Agni. Sangat menikmati saat-saat bersama sohib yang satu ini. Tiba-tiba ia tersedak.

Agni sedikit membelalakkan mata. Lalu dengan sigap ia menepuk-nepuk punggung Alvin. “Nape lo? Di omongin ama orang, tuh. Makanya jadi keselek..” ledek Agni.

“Ngga lah. Gue kan cowok yang baik dan tidak sombong. Iya kan Siv...” mata Alvin mencari-cari gadis dengan rambut yang terikat kuda itu. Namun batang hidung Sivia tak terlihat di sepanjang lorong. Agni ikut mencari keberadaan Sivia yang entah ke mana.

“Ya ampun! Sivia!” seru Alvin panik. Ia segera mengunyah snack terakhirnya dan segera membuang bungkus snack itu entah ke mana. Kemudian Alvin berlari ke UKS. Agni hanya bisa terdiam dan melihat punggung Alvin yang berlari menjauhinya.

“Yaelah Vin.. Vin.. Jadi orang pikun amat ama pacar sendiri.”, gumam Agni sambil menyeruput kembali minuman segar itu dan membuangnya ke tempat sampah yang berada di ujung lorong. Kemudian ia merasakan rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya.

“Errnngg.. Aduuh! Pasti gara-gara gue cuma ngeskip sarapan! Aelah sial amat sih ini. Gue mesti minum obat, kan?” Agni merogoh saku bajunya dan mendapatkan sebuah bungkusan bertuliskan ‘PANADOL’ berwarna biru. Agni berlari kembali ke arah kantin dan memesan sebuah minuman dingin.

***

“Elo...”

“Sivia? Lo apa kabaar?!” Gabriel memeluk Sivia. Membuat semua mata menatap ke arah mereka dengan tatapan bingung. Pada saat yang bersamaan, pintu UKS terbuka dengan Alvin di sana. Tentu saja Alvin merasa hatinya teriris perlahan. Tapi ia memilih untuk bersembunyi di balik topeng cool-nya.

“Baik banget, Yel!” sahut Sivia kemudian melepaskan pelukannya dari Gabriel. Cakka melongo dan menggelengkan kepala sejenak.

“Buset Yel. Kalem.. Pacar lo ya?” tanya Cakka secara blak-blakkan. Rio tak mengomentari pertanyaan Cakka. Sementara Alvin menajamkan telinga.

“Dih? Gue? Pacaran sama Gabriel? Mit-amit deh kak??” gubris Sivia.

‘Hem, jawaban yang memuaskan..’ batin Alvin.

“Ngga mungkinlah gue pacaran ama Sivia orang kita SEPUPUan..” timpal Gabriel.

“YYYEEEESSSS!!!!” teriak Alvin tiba-tiba. Membuat sekarang semua mata melihat ke arahnya. Alvin hanya bisa nyengir dan menggaruk belakang kepala yang tidak terasa gatal.

“Napa lo Vin?” tanya Gabriel. Alvin hanya menggeleng dengan cengiran tidak jelas terbaca di wajahnya.

“Biasa. Kumat gilanya,” sahutan Cakka menghadiahkannya sebuah toyoran gratis dari Alvin.

“Enak aja!!” lalu Alvin duduk di samping Rio. Rio menoleh ke arah Alvin yang sedang merangkulkan tangannya di pundak Alvin.

Rio menatap Mama Ayu yang sedang menggenggam erat jemari Ify. Lalu dilihat kembali gadis berwajah pucat itu. Padahal baru saja tadi ia bertemu dengan wajah cantik itu. Ingin sekali ia melihat wajah sebahagia itu sekali lagi. Tepi sebuah pikiran terlintas di kepala Rio. Mengapa Rio mengingat Ify, tapi Ify sama sekali tidak mengingat Rio?

“Em.. Tante?” Mama Ayu segera mengalihkan pandangannya dari Ify menuju Rio yang ada di sebelahnya. Mama Ayu segera menghapus air mata dan mengulaskan senyuman tipis.

“Iya, kenapa Rio?” Rio menghela napas. Berjuta do’a kembali terucap di batinnya. Berharap susunan puzzle yang berserakan di pikirannya menyatu kembali dengan jawaban yang diberikan beliau.

“Tante inget kan? Dulu Rio ama Ify sering banget main bareng?” Mama Ayu mengangguk. Kemudian Rio melanjutkan. “Kenapa di saat Rio inget sama Ify, Ify ngga inget sama Rio, tante??” nada yang terlontarkan dari bibirnya mulai meninggi. Mama Ayu menghela napas. Perlahan ia melepaskan genggaman tangannya pada jemari Ify. Kemudian membalikkan posisinya agar benar-benar menghadap Rio.

“Mungkin sekarang, saat kamu sudah besar, saatnya kamu tau kebenaran, Rio.”, Rio menaikkan alis. Namun pada saat yang bersamaan, ia menetapkan dirinya menjadi seorang pendengar yang baik.

“Begini..” sebelum melanjutkan kalimatnya, Mama Ayu melirik sebentar ke arah Alvin, Cakka, Gabriel, dan Sivia yang berusaha menjadi pendengar yang baik.

Rio melirik sebentar dan tersenyum, “Ngga apa-apa kok tante. Mereka juga temannya Ify.”, sahut Rio. “Gimana, tan?”

Mama Ayu menundukkan kepala sedikit sambil melontarkan sebuah cerita masa lalu Ify dan Rio.

Flashback

Sebuah suara tangisan terdengar tepat dari rumah Ify. Ify menangis sambil memeluk Rio, cowok yang disayanginya sebagai kakak sendiri. Hari ini Ify akan pindah ke Amerika. Karena tuntutan pekerjaan sang ayah, memaksa Ify untuk ikut selama beberapa bulan. Sekitar 5 bulan.

“Ify ngga mau ikut! Ify mau di sini aja ama Rio!!” raung Ify dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Rio juga sedih. Harus berpisah dengan cewek yang bisa merasuki hatinya saat itu juga. Cewek yang bisa membuat wajahnya memerah. Dan cewek yang bisa membuatnya sesedih ini hanya karena berpisah dengannya.

“Lil Fairy, udah.. Rio juga sedih. Nanti 5 bulan lagi kan kita bisa ketemu lagi?” hibur Rio. Ify menaikkan wajah. Terlihat sebuah semburat merah dari pipinya. Matanya terlihat sayu, tengah menatap sang pangeran yang sudah terlihat cemas.

“Tapi kan lima bulan lama, Yo.. Ify ngga mau pisah sama Rio...” Rio membelai rambut Ify pelan, kemudian hendak mengecup keningnya. Seketika wajah Ify memerah.

“Rio bakal kangen terus kok ama Lil Fairy..” bisik Rio pelan di telinga Ify. Sedikit tertegun dengan apa yang dibisikkan Rio, Ify membenamkan wajahnya dalam rengkuhan hangat Rio. Membiarkan semua terbawa oleh setiap detik waktu yang terus berjalan.

Di hari keberangkatan Ify ke bandara...

“Dadah Lil fairy...” Rio melambaikan tangan ke arah Ify yang sudah berada di dalam mobil dengan kepala yang tersembul lewat celah jendela yang sengaja ia buka sedikit. Air mata sedikit menetes di wajahnya. Ify memberi isyarat agar Rio mendekatinya.

“Ify sayang ama Rio..” bisik Ify yang sukses membuat pipi Rio memanas. Setelah beberapa menit, Ify berangkat dengan kepala yang tersembul sedikit dengan lambaian tangan yang masih bisa terlihat oleh Rio.

Sambil menghela napas panjang, Rio kembali ke dalam rumah. Rumah Rio hanya beda 2 nomor dengan rumah Ify, jadi mudah untuknya buat mengunjungi Ify. Setelah merebahkan badan di kasurnya yang empuk, Rio mulai memejamkan mata. Berharap dengan beberapa menit beristirahat dapat menghilangkan gundahannya terhadap gadis yang selama ini ia sayang. Atau mungkin perasaan itu lebih dari kasih sayang.

@Amerika

“Mama. Ify mau nyebrang ke sana bentar aja ya ma?” Ify menunjuk ke sebuah toko mainan yang terlihat menarik untuknya. Mama mengangguk dan membaca sebuah brosur yang ia genggam sambil duduk di sebuah bangku tak jauh dari Ify.

Tiba-tiba.. CKKIIIITTT!!! BRUUUKKK!!

Mama terlonjak kaget saat melihat Ify terbaring lemas di kelilingi oleh kerumunan orang asing. Darah segar mengalir di dahi kanan Ify. Mama merasa lemas saat itu juga. Mama mengerjapkan mata sambil menguceknya perlahan. Berharap yang ia lihat semua adalah mimpi belaka. Ternyata harapan itu pupus. Ini bukan mimpi. Ify, ify...

“IFYYYYY!!!!”

@Indonesia

Prang! Sebuah pigura dengan gambar foto Rio dan Ify di lapangan basket itu tiba-tiba terjatuh dan membuyarkan konsentrasi Rio dalam mengerjakan PR Fisika sialan itu. Dengan cepat Rio mengambil pigura itu kembali. Tepat sekali pecahan tersebut mengenai dahi Ify di dalam foto itu. Sementara foto Rio tidak terkena apapun. Sebuah perasaan tidak enak mulai menjalar dibenaknya.

‘Rio, buang perasaan itu jauh-jauh. Lil Fairy pasti baik-baik aja..’ batin Rio sambil mengambil kembali pulpennya dan berusaha menyelesaikan soal yang ada.

Dan semenjak itulah, Ify di bawa ke rumah sakit. Dokter menganalisa bahwa Ify positif terkena amnesia sedang. Tidak berat, tidak ringan. Pada beberapa hari pertama setelah Ify siuman, ia masih memanggil mamanya dengan sebutan ‘tante’. Karena mama Ayu masih terlihat asing di mata Ify. Beberapa minggu Ify menjalani perawatan. Keajaiban terjadi begitu cepat seiring roda kehidupan berputar. Sebagian besar ingatan Ify pulih. Tapi dengan beberapa hal yang sempat hilang dari memori otaknya. Rio, dan kenangan yang mereka lalui bersama..

Flashback End

Rio tertegun sesaat mendengar penjelasan mama Ayu. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Tapi keadaan yang sekarang mengurungkan niatnya. Badan Rio terasa begitu lemas. Segalanya lumpuh. Ia membeku.. tak berdaya..

“Ja.. Jadi.. Ify amnesia.. dan.. Ngga akan bisa nginget Rio, tan?” tanya Rio harap-harap cemas. Mama Ayu menggelengkan kepala.

“Belum tentu, Rio. Bisa jadi Ify memang belum pulih benar dan masih ada peluang besar untuk mengingat apa yang telah kalian alami bersama.”, tutur Mama Ayu lembut kemudian mengusap puncak kepala Rio pelan. Rio sudah Mama Ayu anggap sebagai anaknya sendiri.

“Rio, jangan pernah putus harapan tentang ingatan Ify yang hilang. Tante yakin, suatu saat nanti Ify pasti akan mengingat kamu, dan kasih sayangnya padamu dulu. Dan Rio..”perlahan Mama Ayu menjauhkan tangannya dari puncak kepala Rio. “Tante mau bilang,tolong kamu jaga Ify ya. Berjuanglah untuk mendapatkan ingatan Ify kembali seperti semula. Berjuang aja untuk mengembalikan.. ‘Lil Fairy’mu seperti dia yang dulu..” ucap Mama Ayu.

Rio mengangguk. Jujur, puzzle yang tadinya berserakan tentu sudah menjadi kesatuan yang utuh. Kegundahan dan jutaan pertanyaan yang selama ini selalu berputan dalam pikiran Rio terjawab semua. Cakka menepuk punggung Rio pelan. Meski terasa lemas, Cakka tetap menepuknya pelan. Rio hanya bisa menunduk. Hanya satu pertanyaan yang harus ia jawab dari dirinya sendiri,

‘Bagaimana gue bisa mengembalikan ingatan Lil Fairy kayak dulu..?’ batin Rio pelan yang tertuju pada dirinya seorang.

Oke, part ini lebih memusat kepada flashback. Aku akui part ini agak gaje, karena pikiran lagi macet berhubung puasa. Maaf agak vulgar dengan adegan Rio mengecup kening Ify.. Tapi mudah-mudahan part ini bagus di hati kalian. Komen, kritik, saran selalu ditunggu.

Ciao!

= Irena =

No comments:

Post a Comment