Thursday, 19 August 2010

Innocent Reflection : Part 2

Semakin lama Ify semakin terpikir pada sifatnya yang sangat berbeda. Perenung dan periang. Semuanya akan terungkap bila seseorang yang sangat berharga baginya, menyadarkannya.

Part 2 : Perkenalan untuk Sivia dan Tatapan untuk Ify

Ify mendongak sedikit ke atas. Melihat apakah gantungan papan yang di pajang itu bertuliskan nama kelasnya. Di papan itu bertuliskan “XI IPA1”. Ify merasa ingin sujud syukur juga di situ. Alhamdulillah! Dari tadi Ify dan Sivia berjalan mengelilingi lantai 2 hanya untuk kelas itu! Dan syukurlah sekarang kelas ini sudah ketemu. Karena hari ini adalah hari pertama masuk semester baru kelas 11 buat Ify dan Sivia.

Sivia membuka kenop pintu kelas itu, “Akhirnya Fy..” ujarnya sambil menghela napas. Ify mengangguk. Saat pintu terbuka, terasa hawa cool dari dalam. AC di kelas itu sangat dingin. Bersyukurlah Ify dan Sivia.

Ify menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Aaah.. This is the kind of class that I’ve been looking for! Adem bangeet.. Mudah-mudahan setahun itu berjalan lambat..” kata Ify yang menaruh tas selempang birunya di loker meja.

Setelah menaruh tasnya di loker, Sivia memulai pembicaraan. “Fy, katanya hari ini kita udah bisa pake loker lhoo.. Ada di ruang audio visual yang lama! Yang katanya direnovasi itu tau kan?”

“Tau laah.. Asik asik dah! Akhirnya kita bener-bener ngerasa seperti anak SMA betulan. Pasti ntar Bu Winda mau ngasih tau tentang loker.” Ify mencoa menebak apa yang Bu Winda akan bicarakan nanti.

Sivia mengangguk, kemudian ia teringat sesuatu. “Oiya Fy, gue mau ke perpus dulu! Mau minjem novel ‘the Twilight saga Eclipse’. Mau ikut?” ajak Sivia lalu mengambil ponselnya dari tas. Ify menggeleng.

“Mungkin engga deh Vi,” Ify menatap Sivia. “Gue mau ke kantin dulu. Mendadak laper lagi nih hehe..” Ify ngenyir. Sivia mendecak lidah lalu tersenyum.

Sivia beranjak dari tempat ia berdiri. “Yaudah. Gue cabut yak!” Sivia mulai berlari ke perpustakaan.

“Ntar gue mau pinjem juga yaaa!” teriak Ify. Sayup-sayup masih terdengar suara Sivia mengatakan ‘Sip okeoke!!’. Namun Ify tak menghiraukannya. Lebih baik sekarang ia ke kantin karena di dalam perutnya sudah ada sebuah demo yang ramai.

***

Di perpustakaan, seorang cowok tengah duduk bersandar di sebuah kursi nyaman. Di depannya terdapat sejumlah baris yang berisi tentang fotografi. Cowok itu mencermati majalah fotografi itu sampai ada suara merdu yang memaksanya untuk menoleh.

“Pak, novel Eclipse ada ngga?” tanya si pemilik suara itu. Sivia.

Cowok itu menelah ludah. Diliriknya sebuah buku tebal yang tertumpuk di atas buku Fisika yang ia baca. Tertuliskan di halaman depan buku itu ‘the Twilight saga Eclipse’. Cowok itu menoleh kembali ke arah Sivia.

“ooh, di baca ama cowok itu dek.” Pak Andi menunjuk ke arah cowok itu. Cowok itu segera menekuni kembali majalah fotografi yang semula ia baca.

Sivia menoleh ke seseorang yang di tunjuk oleh Pak Andi. Sivia mengangkat alis. Cowok itu adalah anak OSIS.. tapi siapa ya? Tanpa pikir panjang Sivia mendatangi cowok itu. Cowok itu gelagapan, namun tetap mencoba untuk stay cool.

Sivia mencondongkan badannya sedikit ke depan. Didapatinya buku yang ia cari. Senyuman hangat merekah di wajahnya. “Eh, kak..” Sivia melihat ke label yang tertempel di halaman depan buku tulis Fisika cowok itu. “Kak Alvin..”

Alvin menoleh sekilas. Tersenyum tipis.

“Iya.. Kenapa dek?” tanya Alvin. Tiba-tiba Sivia merasakan sesuatu yang asing di benaknya. Sesuatu yang aneh telah menghampiri aliran darah Sivia, merayunya untuk segera mengalir kencang menuju jantung Sivia.

Sivia menarik napas perlahan. “Itu kak.. Em.. Buku tulis.. Eh! Buku nov..vel Eclipse saga nya..” Sekarang Alvin tertawa kecil. Sebuah senyuman tampan tampak dari wajahnya.

Fiuuhh... Sivia ingin sekali ada sebuah sumur di sekolah ini. Atau kalau bisa ada disebelahnya sekarang. Ingin sekali Sivia melompat ke dalam sumur itu, sumur yang berkedalaman 10 meter. Pokoknya untuk menghilangkannya dari hadapan cowok tampan ini. Ia tak tau betapa merah wajahnya sekarang.

Alvin menghentikan tawanya dan mengulaskan sebuah senyuman. “Itu dek. Ambil aja.” Alvin menunjuk ke arah buku novel tebal yang berada di hadapannya.

Sivia mengangguk dan melewati Alvin dari belakang untuk mengambil buku itu. Bersamaan dengan langkah kaki Sivia, Alvin berbalik arah juga. Tanpa disengajai atau di ridhoi oleh satu orangpun, tangan mereka bersentuhan.

DAG.. DIG.. DUG.. DAG.. DIG.. DUG.. Mungkin saja kedua jantung mereka serempak berdetak cepat karena aliran darah yang semakin deras dan tak beraturan. Ditambah lagi karena pandangan mereka beradu.

Degup jantung Alvin masih tak bisa diatur. Bahkan Alvin pun tak tau alasan yang pasti akan aliran darah yang cepat ini dan degupan jantung yang makin beradu. Biasanya Alvin cukup ramah pada perempuan. Rasanya biasa saja dekat dengan mereka. Namun, tidak dengan Sivia.

Sivia segera mengambil buku novel itu dan mendekapkannya di dada. Ia mulai merasakan rasa panas yang mulai menjalar ke wajahnya.

“Em.. Kak Alvin..” panggilan itu memaksa Alvin untuk menoleh. “Makasih.. ya..” kata Sivia, lalu berlalu meninggalkan Alvin. Tapi tak secepat itu, pada saat Sivia selesai menandatangani sebuah buku attendance student in library, Alvin memanggilnya.

“Dek!” panggil Alvin. Sivia menghentikan langkahnya. Ia menghirup napas sekuat mungkin dan ia hembuskan perlahan. Sivia menoleh dan tersenyum. Walau ada sedikit harapan agar senyumannya tak terlihat konyol.

Alvin menyunggingkan senyumannya. “Siapa nama lo?” tanya Alvin dengan suara keras, namun terdengar ramah. Sivia balas tersenyum. Entah kenapa senyuman Alvin selalu membuatnya ingin sekali membalasnya.

“Sivia Azizah. Tapi biasa dipanggil Sivia atau Via,” beriringan dengan kalimat yang Sivia ucapkan barusan, bel tanda berakhirnya free period berakhir.

“Gue duluan ya kak.. udah bel..” Sivia berlalu meninggalkan perpustakaan dan.. Alvin. Alvin masih terperangah melihat seorang peri kecil berlari menuju kelasnya. Tanpa ia sadari sepasang mata tengah memperhatikannya daritadi.

Pak Andi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan murid SMA Bina Pusaka yang satu ini. Alvin. Alvin memang sering ke perpustakaan dan sering berbincang-bincang dengan Pak Andi. Dan dapat Pak Andi simpulkan setelah dia mengenal Alvin, bahwa Alvin adalah anak yang cool dan ngga lebay. Tapi sekarang, mungkin Alvin bisa disebut juga sedang break dari sifat cool-nya.

Ya. Pak Andi yang daritadi memperhatikan Alvin. Tapi masih ada satu orang lagi yang dari tadi tekuun melihat Alvin dan Sivia. Sosok itu sekarang tersenyum dan berlari kecil meninggalkan tempat yang barusan ia tanjakkan.

***

Ify berlari-lari ke arah kantin sampai ia menyenggol pundak seorang cowok. Mungkin benturannya agak keras jadi beberapa angket yang dibawanya jatuh. Ify menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Tuhaaan apa salah hambaa? Udah tiga kali hamba di tabrak oleh orang, tembok, sekarang?? Ampunilah hambaa..” Ify yang memperhatikan cowok itu langsung ngakak sepuas-puasnya. Cowok itu menoleh.

“Woe! Lo bukannya bantuin malah ngakak! Nasib gue lagi apes nih selaku ketua OSIS!” lah? Cowok itu malah ngomel-ngomel ke arah Ify. Ify menghentikan tawanya dan duduk disebelah cowok itu.

“Maaf.. Maaf.. Gue lagi buru-buru nih. Mau makan.. Sori banget ya kak..” Ify membereskan angket-angket yang tadi berjatuhan. Cowok itu tersenyum melihat Ify sambil membatin.

‘Baik banget nih cewek..’ tanpa disadari cowok itu senyam-senyum sendiri. Ify melirik ke arah cowok itu yang masih berada di langit ke tujuh karena Ify. Catat. Karena IFY. Ify berdiri dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan cowok itu.

“Buset, nih orang kenapa?” Ify melihat ke arah name tag yang melingkar dileher cowok itu. “Ma..rio.. Stevanoo.. Aditya, Haling?” Ify diam sejenak. Berfikir.. Rasanya kok nama itu familiar banget buat gue ya?

“Kak Mariooo!!!!” teriak Ify mengagetkan Rio dari khayalan tingkat tingginya. Rio mengerjapkan matanya dan menatap Ify.

Ify menatap Rio heran, “Ngayal apa kak Marioo?” tanyanya. Rio tertawa, membuat rasa panas mendadak menjalar ke arah wajah Ify.

Rio mengambil angket-angket yang agak berserakan di lantai itu “Panggil aja gue kak Rio kali.. Ngga usah panggil kak Mario. Kepanjangan,” ujar Rio. Ify hanya manggut-manggut sambil ikut membereskan angket yang berserakan.

Ify melamun sejenak saat membereskan angket itu. Masih terngiang di otaknya tentang nama Rio. Mario Stevano Aditya Haling.. Rasanya nama itu sangat familiar di telinganya. Tapi Ify tak tau alasan yang pasti. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan kembali berkonsentrasi membereskan angket-angket itu.

Setelah mengambil secarik angket yang terakhir, Ify berdiri. “Ini kak, angket terakhirnya.” Ify menyerahkan angket itu, namun dengan tatapan tertuju pada ujung sepatunya. Entah mengapa sekarang ini Ify tak ingin melihat wajah Rio.

“Iya makasih ya dek..” senyuman Rio merekah pada saat Ify memberikan angket terakhirnya itu. Dilihatnya cewek cantik yang ada dihadapannya ini tengah menunduk. Rio membungkukkan badannya dan melirik sedikit ke wajah Ify.

“Dek.. Kok mukanya merah? Demam ya?” sambil berkata begitu Rio mengangkat dagu Ify dan segera menempelkan tangannya di kening Ify. Tanpa ditanya lagi sudah pasti mata mereka beradu.

Ify terus menatap Rio yang balas menatap Ify. Jantung mereka berdua sama-sama tak karuan. Berdetak tak pandang detik. Cepat. Kencang, pokoknya seperti degup jantung setelah menaiki Roller Coaster. Tatapan mereka masih tetap beradu. Yang mereka rasakan sekarang adalah waktu terasa berhenti berputar dan sekeliling mereka berkabut. Hanya ada mereka berdua.

Tatapan Rio begitu teduh, damai.. begitu pikir Ify. Tanpa ia sadari ada beberapa gadis melihat mereka berdua. Ify segera mengerjapkan matanya.

“Aaa.. Yaudah deh kak, gue mau ke kantin dulu! Bentar lagi mau bel deh kayaknya.. he-eh iya kan? Nah iya, yaudah gue cabut. Oke? Oke good good..” Ify mulai melangkahkan kakinya dari tempat ia beranjak tadi. Ify sangat menyesali apa yang barusan ia katakan. Hal-hal bodoh tak penting yang membuat terdengarnya derai tawa Rio.

Rio tertawa kecil sambil menutupi bibirnya yang tersenyum lebar. Ia menunduk sedikit. Alisnya terangkat. ‘Kartu nama?’ Rio mengambil kartu nama yang ia temukan sedetik yang lalu. Tertulis di situ dengan foto Ify sedang tersenyum terpampang di sudut kiri kartu mungil itu.

Alyssa Saufika Umari

You can call me Ify

Jl. Mawar II blok C3 no. 35

Home : (021) 77263005 (ngarang)

Phone : 0856 – xxx – xxxx

Rio memandang ke langit-langit dengan tatapan menerawang. Terbayang di sana wajah Ify sedang tersenyum. Senyuman yang sangat ia idamkan dan sangat ia.. tunggu.

“Akhirnya kita ketemu lagi, Lil Fairy..” gumam Rio sambil berjalan ke ruang OSIS.

Oke. Kedua tokoh ini sudah mendapatkan masing-masing belahan jiwanya. Namun tak semudah itu. Mungkin saja ada beberapa rintangan seperti kesalah pahaman atau lainnya deh! Mau tau kelanjutannya? Tunggu aja part 3 ya. Maaf kalo nanti part 3-nya agak lama. Soalnya lagi banyak tugas. Okeoke~

TTFN, Ta-ta for now!! ~gaya tigger di winnie the pooh~ ho ho ho hoo

... Irena ...

No comments:

Post a Comment