Mungkin di mata publik, Cakka itu playboy. Namun di mata Agni, Cakka itu berarti baginya. Sama dengan Cakka, di mata publik, Agni itu hanya seorang gadis biasa yang hanya berbakat pada bidang basket. Tapi di mata Cakka, Agni adalah seorang gadis yang berharga buatnya. Begitulah part yang sebelumnya. Dan di part ini? Ada pasangan lain menunggu kita. Check it out!
Part 5 : Informasi tentang The Most Perfect Guys in Bina Pusaka
Sivia baru saja merapikan rambutnya menjadi sebuah ikatan dengan selembar pita berwarna pink pucat ketika ketukan halus terdengar dari pintu kamarnya. Bersamaan dengan itu, mama Sivia menyembulkan kepalanya di balik pintu itu. Membuat Sivia menoleh dan tersenyum.
“Via, udah di jemput ama Ify tuh..” ucap mama singkat kemudian menutup pintu itu kembali. Sivia mengangguk dan menyisir rambut ikalnya itu kembali. Setelah merasa dandanannya sudah rapi, Sivia mencangklongkan ranselnya dan melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
“Pagi, Pa!” sahut Sivia sambil mengecup pipi papanya yang tengah membaca koran.
“Hmm..” jawab papanya tanpa melepaskan pandangannya dari koran yang ia baca. Kemudian Sivia memilih untuk duduk di kursinya dan menyantap roti bakar berselaikan coklat yang tergeletak malang di piring berwarna putih itu dengan corak bunga di pinggiran.
Setelah menghabiskan rotinya, Sivia menelan roti malang itu menuju perjalanan selanjutnya. Setelah itu, Sivia berpamitan kepada kedua orang tuanya dan melangkah keluar dari rumahnya.
Gadis manis itu bergegas menghampiri mobil Jazz berwarna biru ocean, yang terdapat wajah Ify yang menyumbul keluar menatap Sivia. Sivia dengan rambut yang sedikit memantul sekaligus berkibar akibat hembusan angin lembut yang menerbangkan beberapa helai rambutnya. Ify yang melihat penampilan sahabatnya agak lain, karena baru hari ini Sivia mengikat rambutnya secara ekor kuda. Padahal biasanya Sivia selalu menggerai rambutnya.
“Ciee... Tumben di iket kuda rambutnya. Berkesan manis juga lo..” puji Ify saat Sivia memasuki mobilnya. Sivia menunduk sambil mengulaskan senyuman kecil.
“Iya nih. Katanya gue lebih bagus di iket begini. Silir..” Sivia menghirup udara kemudian melanjutkan. “Lagipula sekarang lagi musim panas kan? Jadi lebih baik rambut diiket kayak gini.”, Ify hanya manggut-manggut mendengar alasan Sivia.
Untuk beberapa saat, keheningan yang nyaman menyelimuti detik-detik berlalunya perjalanan mereka menuju sekolah. Sivia mengenang kembali apa yang membuatnya mengubah penampilannya menjadi seperti ini.
FLASHBACK ON
Sivia tengah menunggu jemputannya yang berjanji untuk menjemputnya setelah sekolah bubar. Gadis manis ini menyederkan badannya ke dinding dekat pagar sekolah itu sambil bersenandung kecil.
Just walk away, oh and don’t look back
‘cause if my heart’s breaks it’s gonna hurt so bad
You know I’m strong.. but I can’t take that..
Before it’s too late... Oh just ---
“..walk away..” lanjut sebuah suara. Sivia menoleh ke arah pemilik suara itu, yang ternyata adalah seorang cowok berambut sedikit gondrong. Alvin. Ya, Alvin yang tengah tersenyum dengan tatapan teduhnya mengarah ke arah Sivia yang berhenti bersenandung.
“Eh kak Alvin.. Belom pulang kak?” tanya Sivia sambil merogoh tasnya tanpa tujuan untuk mengambil apapun. Tatapannya tetap kosong, tanpa ekspresi. Alvin berjalan mendekat, dan mengangkat dagu Sivia dengan tangan kanannya.
Deg! Jantung Sivia berdetak kencang dengan perasaan mengambang di udara. Sosok tampan itu tengah menatap ke arahnya. Dengan perasaan yang tak enak, Sivia refleks membuang muka. Alvin merasa bersalah.
“Eh, Sori..” ujar Alvin. Nadanya menyuarakan bahwa ia merasa bersalah. Wajah Sivia memerah saat itu juga. Sivia menggeleng pelan dengan seulas senyuman tipis saat ia menunduk.
Keheningan terjadi di antara mereka. Tiba-tiba suara klakson mobil memecah keheningan di antara mereka. Mobil Yaris berwarna pink pucat berhenti di depan sekolah mereka dengan lampu sen menunjukkan bahwa mobil itu berhenti tepat di depan di depan sekolah mereka.
“Eh, kak.. aku udah dijemput tuh.. duluan ya kak..” Sivia melambaikan tangannya ke arah Alvin yang dibalas dengan senyuman.
Tiba-tiba Alvin berteriak. “Via!” Sivia menoleh dengan tatapan bingung. “Besok coba deh rambut lo di iket kuda! Pasti bagus! Gue yakin!!” seru Alvin lalu menaiki motor ninja berwarna merahnya. Sivia memandang Alvin yang berlalu mendahuluinya dengan senyuman yang terulas di wajahnya yang tampan.
***
Tanpa Sivia sadari ia tersenyum sendiri dengan rona merah yang menghiasi wajahnya yang putih. Membuatnya terlihat manis dan cantik. Ify yang melihat sahabatnya merona, segera menyenggol pundak Sivia pelan dengan alis yang ternaik-turunkan. Sivia menoleh, dan mukanya memerah. Derai tawa Ify terdengar.
“Wahahaha.. Kenapa lo Via? Jatuh cintrong??” tanya Ify. Nadanya terdengar menggoda Sivia. Uuh.. Sivia ingin sekali menimpuki Ify dengan kotak pensil besar dan keras itu ke kepala Ify, atau kalau bisa disumpelin di mulut Ify. Sadis? Biar.
Tak terasa mereka sudah sampai di Bina Pusaka. Riuh para murid terdengar pada saat mereka berdua menuruni mobil. Ify segera berterima kasih kepada Pak Bandi, supirnya, kemudian berjalan beriringan dengan Sivia yang mencangklongkan ranselnya dengan senandung lembut yang senantiasa keluar dari bibirnya. Pendengaran mereka tertuju pada pantulan bola basket yang berasal dari lapangan tengah.
Sambil celingukan mencari sumber suara, Sivia mencolek pundak Ify. “Fy, denger ngga ada pantulan sesuatu yang sangat amat menarik perhatian kita buat nonton? Karena gue denger.”, kata Sivia masih celingukan kanan kiri. Ify hanya mengangkat bahu.
“Denger samar-samar sih Vi, tapi gue ngga tau dari mana sumber suaranya. Gimana kalo kita cari aja? Gue juga penasaran nih, sama siapa yang lagi main basket..” Ify ikut celingukan dan pandangannya tertuju pada sekumpulan anak cowok yang sedang bermain basket di lapangan tengah. Perlahan Ify mendekatkan telinga ke arah lapangan tersebut. Benar. Sumber suara berasal dari sana.
“Vi, sumber suaranya dari sono, noh.”, Ify menunjuk ke lapangan tengah dengan dagu. Sivia menoleh ke arah Ify dan mengangguk lalu menarik tangan Ify saking perasaan penasaran mulai membesar dibenaknya. Siapa sih yang main? Bener-bener memikat.. begitu pikir Sivia.
***
“Dare to be RISE!!! KYAAAAAAA!!!” jerit segerombolan cewek yang membawa spanduk besar bertuliskan ‘Dare to be RISE’ dengan beberapa gambar hati, bunga, dan hal-hal yang menyangkut girly.
Di sisi lain, terlihat sekumpulan cewek yang membawa foto Alvin, Rio, Gabriel, dan Cakka yang sedang memakai baju basket. Masing-masing membawa bola basket dengan gaya cool khas diri mereka. Ify dan Sivia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan para siswi Bina Pusaka yang terlena karena keempat cowok populer ini.
Ify dan Sivia mencoba menyelip-nyelipkan badan mereka di antara kerumunan banyak orang ini. Terutama paling banyak siswi. Karena Ify tak terlalu memperhatikan jalan, ia menabrak seorang kakak kelas. Tanpa disengajai ataupun diridhoi, Ify menyenggol kakak kelas itu sampai kakak kelas itu hampir jatuh tersungkur. Namun tangan Sivia sigap memegang lengan kakak itu.
“Ya ampun! Kakak! Maaf banget kak, kakak ngga apa-apa kan? Maaf banget kak!!” seru Ify panik. Tangannya sudah bersiap untuk mengambil sapu tangan di saku untuk mengelap apabila ada luka tak di anggap. Kakak kelas itu mendongak sedikit. Seulas senyuman terpampang jelas di wajah manis kakak itu.
“Iya dek. Ngga apa apa kok..” ucapnya sambil membersihkan belakang rok dengan pelan. Dengan tatapan yang melirik ke belakangnya untuk memastikan tak ada kotoran yang menempel lagi di rok abu-abu itu. Ify ternganga melihat kakak kelas itu.
“Kakak.. Kak Agni kan? Si putri basket Bina Pusaka?” tanya Ify dengan telunjuk yang mengarah pasti ke Agni. Agni yang selesai membersihkan roknya, segera berdiri tegap dengan bahu yang terangkat. Kemudian ia mengangguk.
“Iya dek.. kok adek bisa tau?” tanya Agni masih dengan tatapan yang menyimpan sebuah tanda tanya yang besar. Mata Ify berbinar-binar.
“KAK AGNIII! KANGEN TAUUU!!!” pekik Ify lalu memeluk Agni yang masih kebingungan. Agni membalas pelukan Ify sambil menepuk-nepuk pelan pundak Ify. Sivia yang di belakang Ify saja masih bingung dengan kelakuan Ify. Gila? Mungkin.
“I..Iya dek.. Emang adek ini siapa? Emang kita udah pernah ketemu? Kapan dimana dan tanggal berapa?” hujan pertanyaan dari Agni tertuju pada Ify yang masih memeluk Agni. Perlahan Agni melepaskan pelukan Ify yang erat itu dan menatap Ify.
“Lho? Kak Agni?? Gue kan adek kelas lo yang waktu itu ikut serta pas panitia kelas VIII di SMP Sinar Harapan? Masa lupa siiiih??” Ify menggoncang pundak Agni pelan. Agni terlihat seperti berfikir sejenak, kemudian memeluk Ify lagi dengan mata yang sedikit berair.
“Ifyyyy!! Sori gue lupaa.. Soalnya terlalu banyak urusan..” Agni melepaskan pelukannya dan mendapati Sivia menatap mereka berdua.
“Oiya kak.. Kakak belum kenal nih. Soalnya waktu itu Sivia ngga ikut serta. Sivia, Kak Agni. Kak Agni, Sivia.” Ify memperkenalkan kakak kelasnya itu dengan Sivia. Sivia menyambut uluran tangan Agni dengan senang hati. Ify memang berbeda. Sosialisasinya di sekolah sangat tinggi. Tapi di rumah? Yah..
“Sivia Azizah. Panggil aja Sivia atau Via. Tapi kalo mau friendly panggil aja Via,” ujar Sivia yang menggoyangkan tangannya. Agni tersenyum. Dengan perlahan ia lepaskan genggaman tangannya dan Sivia.
“Agni.”, jawabnya singkat. Lalu mengalihkan pandangannya ke sebuah bangku panjang yang kosong menghadap ke lapangan tengah yang ramai itu. Agni tersenyum.. lagi.
“Eh, kita duduk di situ aja ya. Kita ngobrol-ngobrol aja during free period. Lagipula gue juga pengen nyari sosialisasi yang lebih luas. Thanks to Ify” ujar Agni dengan lirikannya ke arah Ify yang cengengesan karena namanya tersebut.
“Heheheheee.. Thankies kak! Yaudah yuk duduk!” Ify melangkah meninggalkan kerumunan ramai itu dan berjalan menuju tempat yang di tunjuk oleh Agni. Diiringi semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi, pandangannya tercuri oleh sesosok cowok berkulit hitam manis, rambut sedikit acak-acakkan sedang melakukan three-point dengan bagus. Sempurna. Seketika wajah Ify memerah. Siapa lagi kalau bukan.. Rio. Tapi Ify segera menggelengkan kepalanya dan duduk di bagian tengah bangku panjang itu. Menepuk-nepuk kedua sisi bangku di sampingnya, memberi simbol agar Sivia dan Agni ikut duduk menemaninya.
Agni yang sudah menemukan posisi terPW, memulai pembicaraan. “Eh, kalian kenal tuh ama The Most Perfect Guys in Bina Pusaka?” tanya Agni dengan tatapan lurus ke depan. Sivia dan Ify menoleh secara bersamaan ke arah Agni yang masih berkutat dengan tatapan kosong yang mengarah entah kemana.
“Yup. The Most Perfect Guys in Bina Pusaka. Terdapat 4 orang. Rio sang kapten basket. Alvin sang ahli fotogragi yang cool. Gabriel si wakil ketua OSIS dan Cakka si wajah.. Korea..” tukas Agni dengan nada ragu saat melontarkan profil Cakka. Lalu meneguk sebotol minuman dingin yang sedari tadi ia bawa, dan melanjutkan. “Rio, si akpten basket dengan gaya cool tapi tak se-cool Alvin. Daya tarik dari senyumannya sering membuat cewek klepek-klepek. Tapi ngga ngaruh ke gue. Hem..”
Agni berdehem sebentar, kembali melanjutkan kalimat yang ingin ia lontarkan. “Alvin. Si ketua klub fotografi yang udah handal banget. Dia sangat terkenal karena sifat dinginnya yang misalnya di sapa ama cewe. Pasti dia hanya bisa mengangguk atau mengulaskan senyuman tipis.”, jelas Agni. Sivia mengerutkan kening.
Kayaknya Kak Alvin ngga sependiem yang Kak Agni kira deh... batin Sivia. Tangannya menggenggam kain tasnya yang lemas itu erat. Apakah kebanyakan murid di sini mempunyai cermin seperti Ify? Yang sama sekali tak memantulkan dirinya sendiri? Sivia mencuri pandang dengan lirikan mata yang mengarah kepada Ify yang masih memperhatikan Agni dengan saksama.
“Lalu Gabriel. Setau gue dia masih jomblo. Jadi bagi elo pada yang mau ngincer dia masih aman aja. Dan dia itu anaknya cukup cool. Prestasinya menjamin dia masuk 5 universitas ternama. Ngebuat banyak antrian cewek yang menunggu buat di interogasi cinta ama dia kali..” Ify dan Sivia tertawa mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Agni. Tak lama, derai tawa Agni pun terdengar.
“Nah.. Yang terakhir, Cakka.”, Agni menghentikan kalimatnya karena sudah mulai ada perasaan aneh yang mulai menyeruak dibenaknya. Gadis ini mencoba untuk menghirup napas, dan menghembuskannya perlahan. “Cakka itu hanya seorang playboy kacangan. Mungkin dia punya fansclub. Tapi daya tariknya ngga mempan ke gue”
“Bukannya Kak Cakka tuh lumayan aja ya kak kalo kata gue sih..” ujar Ify yang memeluk kedua lututnya yang terletak di atas bangku itu sekarang.
“Buat gue Cakka itu biasa aja. Tapi gombalannya.. Hemmph! Jangan sampe kemakan ama kata-katanya deh!” Agni berdigik ngeri memastikan kepada adik kelasnya agar apa yang ia katakan itu nyata. Sivia menatap Agni.
Sivia menatap Agni dengan kata yang ia ingin lontarkan. “Em.. Kak, kalo aku boleh bilang sih ya.. Karma itu berlaku lho kak..” Agni balas menatap Sivia dengan tatapan heran.
“Maksudnya?”
“Kata nyokap gue sih, benci ama cinta itu kan bedanya tipis banget. Nah, kakak harus ati-ati dengan perkataan kakak sendiri. Takutnya ntar kakak beneran jadian lho ama kak Cakka.”, sebelum melanjutkan kalimatnya, Sivia menghela napas. “Gue bukannya napa-napa sih kak.. Tapi karma itu sering banget terjadi. Apalagi kalo cewe ama cowo itu saling benci. Atau mungkin salah satunya benci satunya lagi cinta.”
Agni terdiam. Mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Sivia. Memang ada benarnya. Rasanya sekarang ia sudah kena karma oleh Cakka. Karena dulu mereka berdua sering sekali bertengkar dan tak tentu alasannya. Kadang alasan mereka bertengkar itu hanya karena berebut sebuah minuman, tapi hal ini sangat sering terjadi setiap hari. Agni terpaku dan mengalihkan pandangannya ke arah para tim basket yang bermain dengan cekatan tengah terik matahari yang mulai menyinari dengan gagah.
Tatapan Agni menyorot ke satu laki – laki yang sedang men-dribble bola basket dengan indah. Tekniknya cukup bagus. Rambutnya yang sedikit acak – acakkan itu terlihat basah karena keringat yang mulai mengucur. Sekarang waktu untuk laki – laki itu menshoot bola basket itu secara three point. Cahaya matahari memantul ke arah cowok itu dengan postur tingginya yang melakukan three point sambil sedikit melompat.
Lamunan Agni terbuyarkan karena bel tanda masuk sudah terdengar, memaksanya untuk berdiri. Sementara itu, cowok yang dari tadi merasa diperhatikan, menoleh dan menatap punggung cewek itu yang berjalan menjauhinya. Seulas senyuman tipis tengah berada di wajahnya yang sedang meneguk air mineral dingin itu sekarang.
Perasaan Agni sedang tak beraturan sekarang. Tak tau mengapa ia merasa serba salah. Kalau ia pacaran dengan Cakka, ia takut akan Cakka dengan sifat playboy-nya. Tapi kalau ia tetap membenci Cakka yang seperti ia rasakan sekarang, ... Ah. Agni mengacak-acak puncak kepalanya sendiri. Perasaan yang tak menentu ini menghasilkan butiran hangat mulai menyeruak di kedua sudut matanya.
Permisi, numpang nanya.. Apa ngga kelewat sedih ya? Atau mungkin biasa aja? Ah. Lanjut saja lah. Agni masih kebingungan dengan perasaannya sendiri. Gimana dengan Cakka itu sendiri? Apa Cakka benar-benar mencintai Agni dan berjanji ngga akan mendekati cewek lain? Terus aja baca ya ...
Cheers!
= Irena =
No comments:
Post a Comment