Wednesday, 22 December 2010

Taylor Swift


hey guys. melihat judul yang di atas kalian pasti tau dong siapa orangnya? yup. Taylor Swift, the one that will be the topic of my story today. as you know, dia sekarang lagi famous banget dengan nyanyiannya yang dia buat srndiri dan itu cocok banget untuk para cewek:-) terutama lagu You Belong With Me, yang cocok buat cewek yang ingin menyatakan cinta secara diam-diam untuk seorang cowok. dengan kata-kata
yang lucu, membuat kita merasa apa yang dinamakan jatuh cinta.


liat aja gambar di samping. a 21st girl could be a famous girl, right now. and she's really pretty with her curly hair. well, sekarang yang lo tau rambutnya udh ngga keriting lagi kan? check this out,
gambar Tay yang udah berambut lurus. but, she's always pretty with her various looks.



she's pretty isnt she? well, that's the reason why i like her. and her songs, hemmm, i bet y'all like it too. lagu-lagu yang gue suka itu banyak banget. video clip -nya juga bagus- bagus. Tay itu cantik, manis, imut, dan pintar nyanyi. selain itu dia ramah dan di cap sebagai 'Taylor Swift, everyone's best friend'. W-o-w.

Sunday, 19 December 2010

The Person That I Hate

Hello. Long time no post blog. Sekarang gue mau cerita tentang seseorang yang gue lagi keselin. Sorry, this isn't important though, but I really hate her....now.

First of all, dia udah copycat gue. Poni gue, emoticon ':-)' padahal dia biasanya pake yang ':)', pake nyindir gue kalo gue sombong semenjak di follow back sama @TheCodySimpson. Dan dia kalo ngetweet itu nyampah parah. That's it, I won't call you my bestfriend again.

Second, dia egois. Udah tau gue mau ada test, gue malah disuruh nungguin dia. YaAllah gimana gue ngga kesel? Lo yang digituin pasti kesel juga kan? Well, no offense, okay. But as you know, dia itu sensitif parah. Curigaaan. Hal-hal itu bikin gue ngga suka sama dia.

Third of all this reason, dia EGOIS. Okay, maybe its the same reason like number two, but she really is. Masa waktu itu pas dia mau ke rumah temen gue, dia malah nyuruh temen gue itu ngejemput dia ke rumahnya. What the... Otaknya si 'itu' udah ilang entah kemana, mungkin.

Well I think that's all. *sighs* udah ngerasa legaan setelah cerita di blog ini. Sorry kalo ini kayak spam gitu. Tapi hope you wanna hear and read my "diary" Ha-Ha.

Sunday, 22 August 2010

Innocent Reflection : Part 10

Semua orang pasti punya masalah sendiri. Masalah remaja yang akan terus menghantui sampai memungkinkan nilai mata pelajaran mereka sedikit menurun. Tapi ini juga buat pengalaman untuk mereka. Lalu bagaimana kelanjutan perjalanan cinta Rio?

Part 10 : Lembaran yang Baru

“Ify??” semua orang menoleh. Ify sedang mencoba untuk duduk sambil memegangi kepala. Berusaha untuk mengingat apa yang barusan terjadi. Pandangannya masih terasa buram. Terlihat seorang cowok tampan yang ada di hadapannya. Memandang Ify dengan tatapan sayu.

“Errrngggh...” rintih Ify. Tangan mungilnya masih berkutat memegang dahi Ify yang terasa semakin berputar dan perih. Sakit. Ify melihat beberapa gambaran hidup. Cowok dan cewek yang sedang tertawa. Sedang bermain di taman bermain, saling berpelukan, dan seorang cewek yang meyumbulkan kepala sambil melambaikan tangan. Cewek itu... Ify.

Perlahan Ify membuka mata. Dilihat sekeliling, terkadang buram, terkadang jelas. Orang-orang yang ia kenal. Yang selama ini selalu menemaninya. Tapi pandangan Ify tertuju kepada seorang wanita paruh baya tengah menatap Ify. Mata wanita itu terlihat cukup nanar. Mungkin karena setelah menangis lama barusan.

“M..ma..ma....?” ucap Ify lirih. Matanya ia kerjapkan untuk sekian kali. Wanita paruh baya itu segera memeluk Ify. Ify merasakan aliran hangat menyeruak.

“Ify.. Ify, mama di sini.. Tenang ya..?” Mama Ayu mengelus punggung Ify. Berusaha menenangkannya. Meski tak terlihat oleh Mama Ayu, terasa jelas bahwa Ify sedang mengangguk.

Rio menatap Ify yang memeluk mama Ayu. Mata Ify memang sedang tertutup, tapi terlihat kelembutan di balik wajah tirus itu. Tersimpan rasa haru karena mama Ayu hadir di sini. Membuat senyuman hangat merekah di wajah Rio. Cakka menyikut lengan Rio.

“Liatin terooozz..” goda Cakka sambil memainkan alis. Rio menggaruk kepala sambil cengar-cengir tidak jelas. Ify menoleh ke arah Rio dan Cakka dengan dahi berkerut.

“Em..” lirih Ify. Mama Ayu menoleh ke arah Cakka dan Rio yang bercanda.

“Oh, Ify. Kamu inget Rio kan? Yang pas kecil itu tuh lhoooo??” Mama menyikut lengan Ify. Rio berlutut di depan Ify dengan tatapan mata yang teduh. Memandang ke gadis itu, berharap bahwa do’a yang selama ini ia panjatkan terkabulkan hari ini.

Beberapa detik setelah Ify berusaha mengingat, ia memegang kepalanya. Terlintas beberapa gambaran flashback.

“Fy, Ify.. Kamu tiduran aja dulu. Pelan-pelan ngingetnya,” bujuk Mama Ayu dengan perlahan membaringkan Ify di tempat tidur. Mungkin posisi Ify sudah terbaring dengan nyaman di tempat tidur nan empuk itu, tapi pikirannya masih melayang ke masa lalu. Masa lalu yang berupa takdir yang mempertemukan Ify dengan...

Flashback

Seorang gadis kecil berumur 6 tahunan yang berkuncir dua itu tengah bermain di tengah taman yang berbunga. Gadis kecil tersebut bernama Ify. Duduk menatap indahnya danau yang terdapat di seberang sana. matahari memang bersinar dengan gagah hari itu, tapi pohon yang rindang memayungi Ify dari panas matahari.

Senyuman manis merekah di wajah tirus gadis kecil itu. Terus tersenyum setiap hari ia mengunjungi taman itu yang dihiasi oleh pemandangan danau jauh di seberang sana. Keindahan duniawi memang pantas untuk dinikmati sekarang. Saking senang dengan pemandangan nan indah itu, si gadis kecil tak sadar bahwa seorang cowok berumur 7 tahun tengah menatapnya.

Cowok itu bertubuh cukup tinggi. Tangan kanannya menggenggam botol kecil berisi air yang sangat dingin. Tangan kirinya memegang bola basket. Dengan cahaya yang menerpa rambut cowok itu yang sedikit basah karena dihujani keringat, ia terlihat sangat tampan dan manis. Cowok kecil itu bernama Rio.

Rio mendekati Ify yang duduk di rerumputan. Tengah membelakanginya, tangan Rio menepuk pelan pundak Ify. Lantas gadis mungil itu menoleh.

“Hai!” sapa Rio. Ify yang kecil dan polos itu segera tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Halo! Namaku Ify! Kamu?” Rio ternganga sesaat, terkekeh kecil, lalu menyambut uluran tangan mungil itu.

“Rio.”, jawabnya singkat. Kemudian duduk di samping Ify.

Keheningan nyaman terjadi di antara mereka. Hanya semilir angin berhembus menerbangkan beberapa helai daun dan kicauan burung menambah efek indahnya pemandangan di sana. mungkin untuk Rio yang baru menemukan tempat seindah ini, membuat matanya tak berkedip memandangi pemandangan di taman tersebut.

“Wuah! Indah banget!” Rio takjub. Ify menoleh ke arah Rio sambil tertawa kecil. Lalu salah satu barang yang di bawa Rio sangat menarik perhatian Ify untuk bertanya.

“Em.. Kamu suka basket ya, Kak Rio?” mendengar pertanyaan Ify, Rio mendelik sebentar ke arah bola basket yang ia taruh di sebelahnya.

“Iya, aku suka banget basket. Oh, jangan panggil aku ‘kak’. Ngga enak bawaannya. Panggil aja Rio.”, ujar Rio yang dianggukkan oleh Ify. “Kamu sering ke sini?”

“Sering. Apalagi kalo papa sama mama lagi suka berantem.”, sungguh polos, Ify menjawab pertanyaan Rio dengan seulas senyuman tipis. Walau tersirat rasa pahit yang terasa saat Ify kembali memikirkan papa dan mamanya yang bertengkar tadi malam. Jawaban Ify membuat Rio merasa tidak enak.

“Oh.. Maaf, aku ng—”

“Ngga apa apa kok Yo” potong Ify. Memandang kembali pemandangan indah yang tercipta untuk para kaum manusia itu. Mungkin danau ini memang sengaja terbuat agar para umat manusia yang bersedih dapat menenangkan hati.

“Rio punya cita-cita?” tanya Ify.

“Punya dong. Tapi dengan step-by-step.” Ify menaikkan alis. Menatap pangeran tampan yang tengan duduk bersila di sebelahnya.

“step-by-step?”

“Tahap tahapnya! Jadi tahap pertamaku adalah aku pingin jadi kapten basket jika aku udah SMP atau SMA nanti. Lalu kalau aku sudah lulus SMA, aku mau bergabung di U of A. Tapi tujuan aku yang sebenernya itu adalah memakai Redhawks uniform. Seragam dari team U of A.” Ify hanya bisa manggut-manggut. Walau dengan sebagian kalimat Rio yang tak mudah untuk ia pahami.

“Kalau kamu, punya cita-cita?” kali ini giliran Rio yang bertanya.

Ify tak menyahut. Lebih memilih untuk menatap sebagian besar langit yang tak tertutup oleh rindang pohon besar di atas tempat ia berpijak. Tatapannya setengah menerawang ke arah pertanyaan yang barusan ditanyakan oleh Rio. Mungkin sebagian jiwa Ify tersadar, bahwa bibirnya tengah mengucapkan sesuatu.

“Mau bikin papa sama baikan kayak dulu lagi..” lirih Ify. Rio yang tadi memandang ke arah danau itu, segera memalingkan wajah ke arah Ify yang matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan Rio menyeka air mata Ify yang cepat atau lambat pasti akan menetes.

“Sssh.. Sssh.. Udah jangan nangis Ify..” bujuk Rio. Ify menurunkan tangan Rio, mengangguk, dan tersenyum. Mungkin senyuman ini adalah senyuman yang manis. Sangat manis. Membuat Rio – yang baru berusia 7 tahun – merasa ada yang aneh di benaknya.

“Mm.. Ify belum tau cita-cita Ify apa..Mungkin suatu saat nanti Ify bakal tau.”, sambung Ify. Rio tersenyum.

Sambil memandang pemandangan yang tertera dihadapan mereka berdua, mereka saling bertukar informasi satu sama lain. Dan dalam waktu singkat, mereka merasa menjadi akrab.

Flashback Off

Sambil memejamkan mata, Ify menghilangkan bayangan barusan dari benaknya. Perlahan ia membuka mata. Didapati oleh tatapannya, seorang pangeran yang selama ini telah menemaninya. Selama ini telah menjadi tempat curhatnya. Yang bisa membuat Ify menangis puas. Yang bisa membuat Ify tertawa lepas. Rio.

“Lil Fairy.. Kamu inget aku ngga?” tanya Rio harap-harap cemas.

Ify terdiam sejenak. Sedetik kemudian, Ify merengkuh Rio erat. Tentu dengan senyuman hangat yang merekah. Disertai dengan air mata yang meneteskan sebuah rindu yang selama ini ia rasakan.

“Rio.. Lil Fairy inget kok ama Rio..” bisik Ify. Mempererat rengkuhan itu pada Rio. Rio sempat kaget dengan reaksi Ify. Tapi bisikan yang barusan ia dengar membuat senyuman yang menyiratkan kebahagiaan merekah di wajah Rio dan ia membalas pelukan gadis itu.

“Huuuuu.. Mesra aja! Kitanya dicuekin!” gerutu Gabriel. Ify dan Rio perlahan melepaskan rangkulan mereka. Seketika wajah mereka berdua memerah.

“Haha. Santai aja kali. Kita semua kan udah tau hubungan kalian berdua kayak gimana. Dan kita bakal maklumin kalo kalian berdua sangaaaaat deket,” sahut Sivia, lalu menyelipkan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan dan keluar dari jalur ikat kuda rambut ikal itu.

Ify tersenyum. “Makasih semua. Syukur-syukur sekarang gue udah ngerasa kalo kayaknya ingetan gue udah pulih deh..” ujar Ify. Rio tersenyum.

“Yaiyalah. Orang udah inget ama pangerannya masa ngga bisa dibilang pulih..” goda Cakka. Rio memelototi Cakka. Cakka langsung berdigik ngeri.

“Fy, minum obat dulu. Biar kepalanya ngga terlalu sakit. Ayo, sama ini minumnya” Mama Ayu mengangsurkan sebuah pil dan segelas air putih. Ify mengangguk dan mengambil pil itu, memasukannya dalam mulut, dan meneguk sebagian air putih segar itu.

“Makasih, ma” Ify mencoba untuk tidur kembali. Tapi tidak sambil memejamkan mata. Karena berhubung sekolah sebentar lagi akan memasuki jam pulang. Mama Ayu duduk di sebelahnya sambil mengelus pelan rambut Ify.

Drrt.. drrt.. ponsel Mama Ayu bergetar. Dengan cepat Mama Ayu mengambil ponsel Blackberry dari tas yang beliau bawa.

“Aduh.. Kenapa harus sekarang sih..?” desah Mama membuat Ify menoleh. Mama menaruh kembali ponselnya dan hendak pergi.

“M.. Mama mau ke mana?” lirih Ify. Mungkin kekuatan Ify belum sepenuhnya terpenuhi, jadi suara Ify terdengar kecil, dan sedikit lirih. Mama menghela napas.

“Mama ada rapat buat restoran. Soalnya tadi ada keluhan soal pelayanan. Maaf ya sayang. Mobil mama pake dulu..”

Ify mengangguk kecil. Mama Ayu segera mengecup keningnya dan menyempatkan beberapa detik untuk membelai kembali poni Ify yang jatuh menghiasi wajah tirus itu. Sambil memperhatikan punggung mama yang berjalan menjauh pergi, Ify mencoba untuk membendung air mata yang bisa jatuh kapan saja. Kenapa lagi-lagi mama mementingkan pekerjaan dibanding Ify?

“Betewe nih ya, mendingan siapa gitu ke atas ngambilin tas buat Ify?” ujar Rio. Sivia mengangguk.

“Gue aja deh kak. Lagipula tadi gue juga udah ijin ama guru kelas.. dan guru piket juga” jelas Sivia. Rio tersenyum dan mengangguk.

“yaudah mendingan gue juga naik deh. Gue ambilin tas elo pada” timpal Alvin. Cakka ikut beranjak.

“Ehm.. gue sih kayaknya bareng Alvin deh. Soalnya kasian juga nih anak kalo sendirian bawa tas kita-kita. Yuk, Vin.”, ajak Cakka.

“Beuh. Gue mah kagak mau jadi obat nyamuk. Woe! Tunggui guee!!” Gabriel berlari menjauh dari Ify dan Rio. Mereka sama-sama saling membuang muka. Tak tahu harus berbicara apa.

Tiba-tiba Rio teringat sesuatu. Ia merogoh saku celana dan mengambil kalung perak yang sempat ia tunjukkan kepada Ify. Ify menoleh sedikit ke arah Rio, sedikit menaikkan alis. Barang itu..

“Lil Fairy, kamu inget ini?” tanya Rio. Kalung itu begitu cantik. Warna perak yang bersinar karena diterpa oleh cahaya matahari. Dihiasi dengan inisial ‘A’ di tengah kalung. Wajah Ify langsung sumringah.

“Inget! Inget! Ini kan yang waktu itu di toko Naughty itu kan?? Yang aku bilang aku mau beli ini!” Ify heboh sendiri. Rio terkekeh. Inilah Ify, Ify yang manja, Ify yang heboh, Ify yang manis dengan sifat yang sedikit childish.

“hahaha.. Kamu tuh hebooh aja! Iya, ini yang waktu itu kamu mau beli sampe ngerengek ngga jelas. Sampe di rumah masiih aja guling-gulingan di kasur. Mamamu sampe kelabakan ngurusin anak manja kayak kamu nih!” ledek Rio yang mengacak puncak rambut Ify pelan.

“Buat kamu.”, Rio mengangsurkan kalung perak itu. Ify menerimanya dengan senyuman yang manis sekali. Membuat Rio bisa merasakan rasa hangat mulai menjalar di wajahnya.

“Makasih Rio..” Rio tersenyum dan kembali hanyut dalam kesunyian. Ify mencoba untuk memasangkan kalung perak itu sambil sedikit menggerutu. Rio mengangkat wajah yang semula ia tundukkan, dan tertawa.

“Sini.. sini.. aku pakein.. kamu balik badan gih” Ify menurut dan membalikkan badan membelakangi Rio. Perlahan Rio memasangkan kalung itu ke leher Ify. Setelah selesai ia pasangkan, Ify merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel BlackBerry. Berhubung layarnya masih gelap, Ify bisa melihat bayangan dirinya terpantul di layar tersebut.

“Bagus banget. Tapi kenapa inisialnya ‘A’?” tanya Ify. Mengalihkan pandangan ke arah Rio.

“A dari Alyssa. Ya kan?”

“Oiya. Aku lupa ama namaku sendiri. Hehehe..” Ify tertawa kecil. Rio menatap Ify sebentar, kemudian menggenggam tangan Ify.

“Lil Fairy, aku mau kita mulai dari awal lagi.” Kalimat Rio tadi memaksa Ify untuk menoleh.

“Maksudnya?”

“Yah, kita kan udah temenan sejak lama. Dan kamu baru inget kalo aku itu ada di samping kamu. Kamu sempet amnesia sedang. Karena amnesia itu kamu ngga inget sama aku dan kenangan kita bersama. Nah, karena kamu udah inget lagi sekarang, aku pinginnya kita mulai lembaran kertas yang kosong. Lembaran yang baru. Karena aku pingin pertemanan kita lebih kuat daripada yang dulu..” jelas Rio.

“dan tujuan aku mau memulai semua dari awal karena aku kan terkenal disini jadi takutnya fansku pada ngiri sama kam..” Ify menoyor kepala Rio sebelum ia melanjutkan ceritanya.

“Dasar. Yaudah! Kita mulai lembaran yang baru! Hai, namaku Ify.”, Ify mengangsurkan tangannya. Rio mengangkat alis, kemudian segera tersenyum lebar.

“Nama gue Rio. Salam kenal, Lil – eh bukan.. Ify” mungkin ini kedua kalinya Rio memanggil nama Ify. Karena selama ini ia selalu memanggil Ify dengan sebutan Lil Fairy.

“Oiya, Fy. Kapan lagi aku bisa memanggil kamu ‘Lil fairy’?” tanya Rio. Ify tersenyum.

“Kapan aja boleeeeh!!”

***

Hiruk pikuk di seluruh BP terjadi, mungkin setiap sesi pulang sekolah. Murid BP berlalu lalang dari kelas ke gerbang sekolah. Termasuk Ify dkk. Mereka berjalan dengan kesunyian yang menghiasi tiap langkah mereka. Ify berjalan dengan sedikit gontai, mungkin pengaruh amnesianya yang baru pulih membuat keseimbangan tubuhnya sedikit goyah.

“Hmm.. Gue duluan ya! Sepupu gue bentar lagi dateng.”, ucap Gabriel di selang kesunyian itu. Cakka menaikkan alis.

“Oik?” Gabriel mengangguk.

“Sampein maaf gue ke dia ya..” kata Cakka. Gabriel tersenyum lalu mengangguk. Baru kali ini ia melihat sisi lembut Cakka. Sisi lembut kepada seorang gadis. Kata-kata Cakka barusan terdengar sangat tulus. Membuat Gabriel merasa ingin terus tersenyum sampai ia bertemu Oik.

“Yaudah gue juga duluan deh,” ujar Sivia.

“Pulang sama siapa, Vi?” tanya Alvin tiba-tiba.

“Mmm.. Kayaknya gue naik angkot deh. Mobil lagi di pake mama gue buat ke kantor. Kenapa Kak?” tanya Sivia. Jutaan do’a ia panjatkan di batinnya agar Alvin mau mengajaknya untuk pulang bersama.

“Ooh. Yaudah, mau gue anter pulang. Rumah lo di mana sih?” jawaban Alvin membuat Sivia ingin terbang ke langit ke tujuh. Lebay? Biar. Tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan Sivia saat ini. Pulang bersama dengan cowok yang selama ini bisa merebut hatinya.

“M.. Boleh deh kak. Ngga ngerepotin kan?”

“Ngga lah. Ayo naik!” Alvin mengangsurkan sebuah helm berwarna merah dengan corak hitam di sekitarnya kepada Sivia. Sivia memakain helm dan naik motor Ninja Alvin. Melambaikan tangannya dan segera berlalu di jalan raya.

“Gue mau ke ruang OSIS dulu deh. Mau ngecek berkas buat basket kita.”, Cakka melambaikan tangan dan segera berlari menelusuri lorong menuju ruang OSIS. Tinggalah Rio dan Ify yang masih diam beribu kata.

“Ify.. Mau gue anter?” tanya Rio memecah kesunyian.

“Boleh deh Kak. Lo masih inget rumah gue di mana kan?”

“Masih lah. Ayo” Rio berjalan ke arah tempat parkiran motor diiringi oleh Ify dibelakangnya.

***

Cakka masih terengah-engah dalam perjalanannya ke arah ruang OSIS. Karena ia ingin bersegera mengambil berkas itu dan bergegas pulang. Berhubung kuis Pak Duta kemarin sempat tertunda, membuat Cakka harus mengulang kembali rumus yang telah diajarkan beliau. Dan rumus itu sangat sulit untuk Cakka dan pasti membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan soal yang ada.

BRUK! Cakka menabrak seorang gadis yang membawa beberapa berkas IPA. Sontak Cakka segera berlutut dan mengambil berkas yang berserakan di lantai itu.

“Sori.. Sori! Gue lagi buru-buru.. soriii banget!” pinta Cakka masih berkutat mengambil berkas yang berserakan tersebut. Cewek itu diam. Memasukkan berkas itu ke dalam map berwarna merah yang ia bawa.

Cakka menatap cewek itu dengan pertanyaan. ‘kayaknya gue pernah liat ini cewek deh.. Tapi dimana ya?’ Rambut sebahu yang terikat . menyisakan beberapa helai rambut di telinganya. Seragam yang cukup berantakan, kemeja yang keluar dari rok abu-abu membuat Cakka melihat kesan gadis ini adalah tomboy. Tentu saja. Karena saat gadis itu mengangkat wajah..

“Lho, Agni?” Cakka terkesiap. Karena jarak wajah di antara mereka hanya berjarak kira-kira 3 cm. Menyadari itu, Agni segera memalingkan wajah dari Cakka.

“Ehm. Makasih ya udah bantuin gue. Sekarang gue mau ke ruang OSIS nih” ujar Agni. Cakka ikut berdiri.

“Gue ikut ya. Soalnya gue juga mau ke ruang OSIS” tukas Cakka tanpa menunggu jawaban ia refleks menggenggam tangan Agni dan berjalan menuju ruang OSIS.

Agni hanya diam. Ia tak bisa menolak tingkah Cakka yang menggenggam erat tangannya. Desiran aneh terasa lagi di hati Agni. Tanpa mengetahui apa yang dimaksud oleh gundah yang selama ini menghantuinya. Semua gundahnya tentang Cakka. Sudah berkali-kali Agni terpikirkan oleh Cakka. Wajahnya, senyumannya, kebaikannya, dan masa lalu yang sempat mereka lalui bersama.

Barulah Cakka sadar akan lingkaran tangannya pada tangan Agni setelah mereka sampai di ruang OSIS. Cakka langsung melepas genggaman itu dari Agni. Entah mengapa perasaan kecewa menyelimuti raut wajah gadis itu, seolah-olah tak ingin genggaman tangan itu lepas darinya.

“Ehm. Itu di sebelah sana berkas IPA-nya. Gue sih mau ngecek berkas basket..” jari telunjuk Cakka menelusuri beberapa map bertuliskan ‘basket X’ ‘basket XI’ dan ‘basket XII’. Kemudian ia mengambil berkas yang bertuliskan TURNAMEN BASKET. Diam-diam Agni memperhatikan berkas yang diambil oleh Cakka.

“Turnamen basket. Lawan siapa?” tanya Agni. Cakka menoleh sekilas, lalu memusatkan pandangan kembali ke arah berkas itu.

“Rencananya mau sama SMA Karya Nusantara. Tapi itu pas saat kita mau gratuade. Pas kelulusan anak-anak BP. Mungkin setelah ujian.”, jelas Cakka. Agni hanya bisa membulatkan bibirnya membentuk huruf O.

“Yaudah deh Cak. Gue duluan aja. Bye! Makasih sekali lagi!” Agni berlalu. Masih terdengar derap langkah kaki Agni yang menelusuri lorong sekolah yang sedang kosong itu. Cakka hanya bisa tersenyum.

Mungkin sekarang adalah hari keberuntungan Cakka. Hari ini ia bisa bercakap-cakap dengan Agni walau hanya beberapa saat. Saat-saat yang ia lalui bersama Agni adalah saat yang paling membahagiakan di hidupnya. Walau tadinya Cakka berharap, ia dapat menawarkan tumpangan untuk mengantarkan Agni ke rumah. Ah, biarlah.

Dengan sedikit cekatan, Cakka mengambil kunci motor di tasnya. Berlari ke arah parkiran motor. Berharap detik-detik yang berjalan dapat diperlambat. Berhubung Cakka akan belajar kimia. Pelajaran yang dicap sebagai kelemahan Cakka.

Huufft.. Akhirnya Ify inget juga sama Rio, *penulis sujud syukur*. Nah, alvin-sivia lagi dalam masa PDKT, Gabriel masih mencari belahan jiwanya, Cakka dan Agni masih agak kaku, Rio dan Ify akan memulai lembaran yang baru. Masalah sudah selesai satu, tapi apakah semua akan berbahagia hanya sampai di sini?

Ciao!

= Irena =

Thursday, 19 August 2010

Innocent Reflection : Part 9

Terasa begitu menyesakkan untuk Rio karena alasan dari semua kegundahan yang ia pendam itu terungkap. Seharusnya ia senang, seharusnya ia bahagia, tapi mengapa dada Rio terasa sesak? Pasti kalian tahu alasannya. Lalu bagaimana dengan pasangan lain?

Part 9 : Keresahan yang Melanda

Mama Ayu masih setia menemani Ify dengan sabar. Jemari Mama Ayu masih menggenggam jemari lemas Ify. Wajah Ify sudah mulai berubah, sudah tidak terlalu pucat. Rio baru datang setelah membelikan teman-temannya itu makanan. Bersama Alvin. Nampan yang dibawanya terdapat beberapa mangkuk berisi indomie kuah yang menggugah selera. Kebetulan cuaca sedang berangin kencang, jadi Rio membelikan makanan itu untuk menghangatkan badan.

“Ini tante. Tante makan aja dulu.”, tawar Rio yang mengangsurkan semangkuk berisi indomie itu. Mama Ayu menoleh, mengangguk, lalu meraih sepasang sendok dan garpu di napan yang dibawa Rio.

“Makasih ya Rio..” ucap Mama Ayu lirih. Membuat Rio menggaruk belakang kepalanya sambil mesem-mesem. Sementara Gabriel melihat Rio dengan tatapan penuh arti.

Semula Gabriel akan melakukan pendekatan kepada Ify. Tapi melihat hubungan Ify dan Rio yang begitu dekat. Terlalu dekat itu membuat Gabriel mengurungkan niatnya. Ia merasa ia akan jadi penghalang untuk Rio. Walau rasa sesak di dada Gabriel tak bisa ia pungkiri, ia harus bisa bertahan. Gabriel bukanlah tipe seorang cowok yang suka menyosor di antara percintaan sohibnya itu sendiri. Lebih baik ia pendam dengan rasa sakit yang masih terasa di dadanya.

Gabriel memilih untuk berdiri, membiarkan indomie yang malang itu tertimpa oleh angin yang berhembus kencang membuat makanan itu dingin. Ia menjawil pundak Rio. Rio menoleh. Mendapati Gabriel tengah menatapnya dengan tatapan setengah menerawang, membuat alis Rio ternaikkan.

“Yo, gue mau ngomong sama lo. Tapi jangan di sini..” ajak Gabriel. Rio malah berdigik ngeri.

“Yel, gue tau gue cakep. Tapi tolong lo jangan nembak gue ya.. Bener-bener dah. Masih banyak fans fanatik lo yang ngantri udah kayak ngantri BLT tau!” Rio berusaha menepis lingkaran tangan Gabriel yang terdapat pada lengannya sekarang. Gabriel menghela napas panjang,

“Ngga ada waktu buat main-main gue, Yo. Ayo ikut gue ke taman belakang sekarang. Gue mau ngomong penting sama lo.”, Gabriel tetap memaksa. Dengan pasrah walau ada rasa bingung di hati Rio, ia mengekori Gabriel menuju taman belakang. Sementara para teman mereka hanya bisa menatap Rio dan Gabriel yang berjalan menjauh.

***

Rio berhenti begitu melihat Gabriel menghentikan langkah. Memang, mereka sudah sampai di taman belakang. Di tempat yang sangat nyaman. Pohon rindang memayungi mereka dari teriknya matahari yang begitu menyengat. Beberapa bangku panjang terdapat di sana untuk para remaja yang sedang beristirahat. Tak lupa ada beberapa tanaman bunga yang mempercantik taman itu.

Gabriel menundukkan kepala, lalu berbalik. “Yo.. Gue mau curhat sama lo. Dan.. Mudah-mudahan curhattan gue ngga bakal ngerusak persahabatan kita yang udah berlangsung lama ini.”, tutur Gabriel. Alis Rio kembali naik. Tapi akhirnya Rio mengangguk.

“Gue.. Suka sama Ify.”, Rio ternganga. Gabriel masih menundukkan kepala. Di lubuk hati Gabriel yang terdalam, ia masih tak percaya. Karena bisa menyukai seorang gadis begitu cepat. Dan itu sangat disadari saat Gabriel bisa merasakan detak jantungnya yang makin lama makin beradu apabila Gabriel dekat dengan Ify.

“Dan, gue juga udah tau kalo elo suka sama dia Yo.”, sambungnya. “Gue udah liat dari sorot mata lo ke dia aja udah beda. Mungkin lo adalah cowok yang pantas buat Ify, Yo. Bukan gue. Untuk sekarang gue akui lo adalah cowok yang baik, yang perhatian, bahkan tanpa pikir panjang lo membawa Ify ke UKS tanpa rasa Jaim.”

Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang nyaman di antara mereka berdua. Hanya desiran angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan menerbangkan beberapa helai daun yang berjatuhan. Rio terus terdiam. Hanya bisa mencerna apa yang barusan dikatakan oleh Gabriel. Ya, dulu, sebelum Rio bertemu Ify yang sekarang, Rio itu sangat jaim. Jika ada cewek yang ia suka, ia tak pernah melakukan PDKT karena rasa jaim yang melanda. Tapi sekarang? Rasa itu telah Rio buang jauh-jauh hanya untuk peri kecilnya.

“Em.. Yel.”, sahut Rio yang membuat Gabriel menoleh ke arah Rio. Rio tersenyum, walau sedikit pahit.

“Gue hargain perasaan lo ke Ify. Tapi, memang bener apa yang elo bilang barusan. Sepertinya rasa jaim gue yang selalu ada pada diri gue ilang entah kemana semenjak gue ketemu Ify lagi di Bina Pusaka. Entah mengapa setelah elo bilang gue suka sama Ify, gue merasa ada yang janggal..”

“Maksud lo?” Gabriel melipatkan kedua tangannya di dada.

“Maksud gue.. gue belum terlalu yakin sama perasaan gue. Setelah sekian lama akhirnya gue ketemu juga sama Ify, itu udah bikin gue bahagia. Terlalu bahagia. Tapi dengan perasaan gue? Gue belum terlalu yakin apakah gue itu nganggep dia sahabat, sayang sama dia, atau mungkin bisa jadi..”

“Cinta” sambung Gabriel yang dianggukkan oleh Rio. Gabriel tersenyum dan berjalan mendekati Rio. Menepuk pundak Rio pelan.

“Gue yakin sepertinya elo emang cinta ama dia Yo. Deg-degan elo itu memang bisa lo sembunyiin di belakang topeng yang selama ini menutupi wajah merah yang selalu terasa bila lo deket ama Ify. Lo emang ahli banget dalam menyembunyikan sebuah emosi, walau emosi lo saat itu sedang menggebu-gebu.”

Rio tidak menanggapi. Ia berjalan mendekati kolam ikan yang jernih itu dan menatap dirinya yang terpantul di air bening tersebut. Menyipitkan mata, melihat apakah dirinya itu benar-benar dirinya. Dalam lain kata, Rio merasa bahwa dia tak bisa mengontrol emosi yang bergejolak. Merasa bahwa Ify-lah yang membuatnya tak seperti dulu. Dengan sedikit beremosi, Rio mencipratkan air itu.

“Bayangan gue salah! Kenapa gue harus mempunyai bayangan yang sama sekali ngga mencerminkan gue yang sebenarnya! Gue benci ama bayangan gue sendiri! Gue ngga tau harus gimana dengan emosi gue sekarang!! Gue bahkan ngga tau gimana harus sedih, seneng, atau marah!! Gimana Yel!” Rio bisa mengeluarkan amarahnya. Gabriel menarik napas sambil sedikit memejamkan mata, lalu ia hembuskan perhalan seiring ia membuka mata.

“Yo, tenang Yo. Gue ngga mancing elo buat ngeluarin amarah lo terlalu cepet begini. Tenangin diri lo Yo. Tenang..” Gabriel menepuk-nepuk pundak Rio. Rio duduk lalu menyandarkan dirinya ke dinding yang terdapat di belakangnya. Gabriel mengikuti aktivitas Rio dengan duduk disebelahnya.

Rio merenung sesaat lalu beranjak dari duduknya. Gabriel menatap Rio yang membelakangi dirinya. Rio menoleh dengan ulasan senyuman. Gabriel membalasnya. Ia sudah tau apa yang dimaksud oleh Rio. Tatapan Rio seolah berkata, “Makasih Yel..”

Tanpa basa-basi, Rio berjalan ke UKS untuk melihat kembali keadaan Ify. Gabriel memilih untuk menyendiri sebentar di taman belakang. Sambil merenungkan kembali tentang perasaan Gabriel kepada Ify. Berusaha mencari jalan keluar untuk hatinya yang sedang gundah akan masalah cinta yang ia alami. Tanpa Gabriel sadari, seorang gadis tengah mengamati setiap lekuk wajah Gabriel yang tengah melamun..

***

Cakka memilih untuk keluar dari UKS untuk mencari udara segar. Karena di UKS tercium terus bau obat-obatan yang tersimpan di lemari besar berwarna putih. Juga ada di beberapa tempat di luar lemari. Membuat Cakka sedikit boring berada di sana. Dengan salah satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, ia mulai menelusuri tiap ruangan. Tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan ruang musik. Sepertinya di sana sedang belajar tentang memainkan alat musik sambil bernyanyi. Cakka menajamkan telinga.

“I got introduced to you by a friend
You were cute and all that, baby you set the trend
Yes you did oh
The next thing I know we're down at the cinema
We're sitting there and you said you loved me

What's that about?

You're moving too fast, I don't understand you
I'm not ready yet, baby I can't pretend
No I can't
The best I can do is tell you to talk to me
It's possible, eventual
Love will find a way
Love will find a way

Don't say you love me
You don't even know me
If you really want me
Then give me some time
Don't go there baby
Not before I'm ready
Don't say your heart's in a hurry
It's not like we're gonna get married
Give me, give me some time

Here's how I play, here's where you stand
Here's what to prove to get any further than where it's been
I'll make it clear, not gonna tell you twice
Take it slow, you keep pushing me
You're pushing me away
Pushing me away

Don't say you love me
You don't even know me
If you really want me
Then give me some time
Don't go there baby
Not before I'm ready
Don't say your heart's in a hurry
It's not like we're gonna get married
Give me, give me some time


oooo, na, na, na, na, na, na, na
na, na, na, na, na, na, na
oooo, na, na, na, na, na, na, na
na, na, na, na, na, na, na

Don't say you love me
You don't even know me baby

Baby don't say you love me, baby
If you really want me
Then give me some time
Give me some time

Don't say you love me
You don't even know me
If you really want me
Then give me some time
Don't go there baby
Not before I'm ready
Don't say your heart's in a hurry
It's not like we're gonna get married
Give me, give me some time
....

Terdengar sorak sorai para murid saat sang gadis yang barusan bernyanyi itu menyelesaikan nyanyian sekaligus petikan gitarnya. Sayup-sayup terdengar Pak Joe berkata ‘wonderful, Agni!’. Jantung Cakka tak beraturan degupannya. Saat mendengar nama itu di sebut. Dengan cepat ia menjauhkan telinga dari pintu ruangan tersebut.

Entah mengapa, Cakka merasa bahwa lagu tersebut terlalu menusuk hatinya. Seakan-akan Agni menyanyikan lagu tersebut untuk menyampaikan apa yang ia rasakan kepada Cakka. Menyampaikan bahwa agar Cakka tak berburu-buru menyatakan cinta kepada Agni. Menasehati Cakka agar bisa menggunakan waktu untuk memikirkan perasaan Cakka untuk dirinya. Membuat Cakka sedikit tertegun kepada apa yang dinyanyikan Agni.

Cakka berjalan kembali menelusuri lorong kosong tersebut. Ingin sekali ia mengatakan apa yang ia rasakan kepada Agni. Tapi setelah mendengar apa yang ia dengar barusan, niatnya terurungkan. Karena ia tak ingin membuat Agni repot akan keegoisannya. Tentu saja Cakka tidak mau membuat orang lain susah hanya untuk dirinya sendiri bukan. Saking resah yang ia rasakan, setiap ada batu dihadapannya, ia tendang. Mengutarakan pada dirinya bahwa ia sangat merasa frustasi saat ini.

Di saat yang bersamaan, kelas XII IPA2, kelas Agni keluar berhamburan untuk kembali ke kelas karena bel pergantian pelajaran telah berbunyi. Agni terkesiap melihat sosok dari belakang itu. Sosok yang membuat Agni bisa menangis tempo hari. Cakka. Terlihat sedang mengacak rambutnya sambil sedikit berseru.

“Apa lagu yang elo nyanyiin tadi tertuju ke gue, Ag?! Apa gue salah banget ya di mata lo? Apa gue masih terlihat bagaikan playboy kacangan di mata lo? Arrrrghh!” sekali lagi Cakka menendang kerikil kecil di depannya. Agni menghela napas.

‘Gue masih belum siap aja ama perasaan gue Cak. Memang, lagu tadi itu gue tujuin buat elo. Walau gue ngga habis pikir kalo lo bakal ngedengerin nyanyian gue dari awal sampai akhir. Maaf Cak. Beri gue waktu sebentaaar lagi. Just.. give me some time.’, batin Agni lalu berjalan mengikuti teman sekelasnya yang sudah berjalan di depan Agni. Membiarkan Cakka menyendiri sambil merenungkan apa yang ia nyanyikan dengan perasaan yang makin hari makin terasa sakitnya. Perasaan Agni kepada Cakka.

***

Terjadi keheningan di UKS. Keheningan yang nyaman. Hanya ada Sivia dan Alvin di sana. mama Ayu sedang keluar sebentar untuk memberitahukan Pak Duta, sang wakil kepala sekolah, bahwa Ify akan izin selama beberapa hari untuk beristirahat di rumah. Sivia membisu. Hanya tangannya yang gatal dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kasur Ify. Sementara Alvin memberitahukan Irsyad agar mengizinkan dia ke Bu Winda dan bilang bahwa ia menjaga temannya yang sakit.

Sivia mulai beranjak dari tempat duduk. Menatap Alvin. Alvin. Yang cukup merebut hatinya. Ketampanannya yang membuat Sivia terpesona. Kebaikannya yang membuat Sivia tersanjung. Kelembutannya yang membuat Sivia spechless. Kelakuannya tadi siang yang membuat Sivia pertama kali merasakan asma, (?) bukan deng. Membuat Sivia pertama kalinya merasakan rasanya sakit hati. Saat Sivia mengingat kembali apa yang Alvin lakukan, yaitu membuatnya dikacangin. Membuat rasa pedih dan sakit kembali menyerang hatinya..

“Kak Alvin..” sahut Sivia. Alvin menoleh. Sivia menghela napas. Berusaha agar Alvin mengatakan ‘tidak’.. “Kak Alvin.. Suka sama Kak Agni ya?” tanya Sivia to the point. Alvin terkesiap. Hampir saja Blackberrynya jatuh ke lantai.

“Maksud lo apaan Vi?” tanya Alvin. Sivia menghela napas.

“Maksud gue adalah, kenapa lo bisa ngelupain gue sewaktu lo ketemu Kak Agni tadi pas istirahat? Kenapa lo keliatannya seneng banget pas ketemu Kak Agni. Kenapa kak?” tanya Sivia, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang sudah mulai terasa di benaknya.

“Sivia.. Kenapa sih? Gue ama Agni Cuma temenan kok. Ngga ada apa-apa. Emang kenapa?” tanya Alvin. Cukup. Sivia memang orangnya agak sensitif kalau soal begini. Hal kecil begini saja sudah bisa membuat Sivia sakit.

“Ngga apa-apa deh kak..” gumam Sivia. Alvin mengangkat bahu. Membiarkan pertanyaan Sivia hilang begitu saja dari pikiran Alvin seiring berputarnya dunia. Seiring berjalannya detik menit jam yang terbawa oleh suasana begitu saja. Sementara Sivia masih terdiam. Batinnya masih terlalu sakit untuk bicara.

Sebenarnya Alvin juga menggumamkan apa yang barusan dikatakan oleh Sivia. Memikirkan setiap suku kata yang keluar begitu saja lewat bibir merah Sivia. Diam-diam Alvin mencuri pandang lewat lirikan matanya. Memperhatikan lebih saksama setiap lekukan wajah Sivia yang terlihat pure dan manis. Rambut Sivia yang sedikit tertiup angin AC yang berhembus pelan tapi sejuk. Jujur, Alvin merasa hatinya benar-benar terebut oleh Sivia. Membuat Alvin terus menerus memikirkan hal ini.

Di batin Sivia, terus menerus terlintas bayangan Alvin yang terlihat begitu bahagia bersama Agni tadi saat selang istirahat. Sebenarnya Sivia ingin sekali menumpahkan air mata saat itu juga. Mengetes Alvin apakah dia sangat perhatian pada Sivia. Tapi ada takut yang melanda. Apa Alvin hanya perhatian pada Sivia hanya karena kasihan melihat Sivia yang menyendiri? Apa semua perhatian Alvin kepada dirinya itu hanyalah sebuah harapan palsu? Sivia menaikkan kedua lututnya kemudian membenamkan wajah di antara lutut tersebut. Alvin segera menyadari tingkah Sivia yang terlihat seperi gadis yang sedang menangis.

“Via.. Kenapa Via..?” nada yang terlontarkan Alvin itu terdengar sangat khawatir. Sivia sedikit mengangkat wajah dan menggeleng. Alvin mengelus rambut Sivia lembut. Membuat Sivia merasa air matanya terasa semakin tumpah dan deras.

“Via? Sakit ya..? apanya yang sakit??” nada tanya Alvin terdengar menjurus ke arah nada yang mulai panik.

Sivia masih tidak menjawab, malah menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya. Membiarkan aliran di pipinya semakin deras. Dan tiba-tiba dia merasakan rengkuhan Alvin di pundaknya yang membimbingnya untuk membenamkan wajahnya di dalam pelukan cowok itu. Merasakan jemari Alvin yang dengan lembut menyusuri rambutnya. Terasa kelembutan Alvin lewat kasih sayang yang selama ini ia berikan kepada Sivia.

“Udah, Vi.. Kalo mau nangis.. Silahkan tumpahkan aja rasa sakir lo itu semua ke gue. Ngga apa-apa.. nangis aja sampe elo tenang.. Gue bakal nemenin elo terus kok..” bisik Alvin. Lalu mengangkat wajah Sivia dengan telunjuk kanannya. Mendapati wajah manis itu berlumuran dengan air mata yang mengalir deras. Dengan lembut Alvin menyeka air mata Sivia.

Sivia mengangguk lalu membenamkan wajahnya di pelukan Alvin. Hangat. Itulah yang Sivia rasakan. Tiba-tiba ia mendengar suara ‘dag-dig-dug’. Sivia meraba dadanya. Memang, jantung Sivia saat itu berdebar-debar sangat kencang. Tapi telinganya mendapati sumber suara itu berasal dari dada Alvin. Mendengar suara ‘dag-dig-dug’ terdengar dari sana. mungkinkah harapan Alvin bukanlah harapan palsu? Apa Sivia masih bisa berharap lagi..?

Alvin masih membelai rambut ikal Sivia. Merasakan detak jantung yang semakin beradu dan aliran darah yang terasa semakin cepat. Serasa berlomba menuju jantung. Berlomba untuk mendetakkan jantung sampai Alvin merasa ingin mati. Tapi rengkuhan dan baju Alvin yang terasa semakin basah membuat Alvin perlahan-lahan bisa menenangkan jantungnya. Alvin ingin sekali menenangkan Sivia, berharap agar waktu terulang ke waktu ia dan Agni berada di lorong. Di saat waktu itu terulang, Alvin ngga akan melupakan Sivia yang terdiam sendiri merasa dicuekin olehnya.

Dalam beberapa saat, keheningan yang tenang. Sangat tenang menyelimuti Sivia dan Alvin. Mereka berdua sama-sama merasakan debaran jantung mereka masing-masing. Merasakan kehangatan yang terpancarkan lewat rengkuhan yang saling mereka berikan. Mereka sama-sama bisa mendengarkan detak jantung masing-masing. Berharap semua beban yang mereka rasakan terbawa oleh waktu yang terus berjalan seiring berputarnya dunia.

Setelah beberapa lama, tangisan Sivia mereda. Perlahan ia mengangkat wajahnya yang sempat ia benamkan ke dalam rengkuhan hangat Alvin. Tapi untuk satu atau dua kali, Sivia kembali membenamkan wajah cantik itu ke dalam pelukan laki-laki pujaannya. Alvin pun tak ada masalah. Rela baju seragam BP itu basah untuk sebuah air mata indah dari cewek yang selama ini terasa merebut hati Alvin.

Setelah Sivia benar-benar lega akan tangisan yang baru saja ia tumpahkan, ia duduk sambil perlahan menyeka air matanya dengan sapu tangan pink kemerahan yang ia bawa. Alvin masih bisa menatap gadis itu dengan tatapan sayu. Benar-benar ingin melakukan sesuatu agar gadis itu selalu tampak bahagia dihadapannya. Jendela UKS yang terbuka membawa semilir angin yang menerbangkan beberapa helai rambut Sivia. Makin terlihat indah di mata Alvin. Membuat Alvin terpesona akan kecantikan Sivia.

“Eh.. jangan dorong-dorong dong!” bisik Gabriel dengan nada yang meninggi.

“Astajim! Jangan injek kaki gue Yo!” teriak Cakka.

“Diem dikit kenapa sih??” seru Rio.

“Lho? Pada ngapain di jendela UKS?” tanya Mama Ayu.

GEDUBERAAAAKKK!! Pintu UKS terbuka dengan Gabriel, Cakka, dan Rio yang saling bertubrukan. Sementara Mama Ayu hanya menggelengkan kepala di belakang mereka. Cowok tiga itu hanya cengengesan. Alvin dan Sivia menatap mereka dengan aura neraka.

“NGINTIP YAAAAAA!!!” omel Sivia. Alvin hanya menunduk.

‘Pada ngerusak momen romantis gue nih..’ batin Alvin dengan kecewa. Tiba-tiba..

“Ngghh.. Gue.. Gue kenapa??” rintih seorang gadis sambil memegangi kepalanya. Semua menoleh.

“Ify??”

Waduh.. The Most Perfect Guys ini semua lagi punya masalah nih. Gabriel yang masih shock dengan perasaan Rio kepada Ify. Cakka yang harus memberikan Agni waktu untuk berfikir tentang perasaannya. Alvin yang sama sekali tak mau Sivia dibuat sedih. Dan Rio yang masih memikirkan tentang Lil Fairy-nya. Tapi, Ify bangun lho! Kira-kira Ify akan langsung ingat tidak ya sama Rio? Tunggu ya part selanjutnya. Komen, kritik, saran, selalu ditunggu!

Ciao!

= Irena =